STUDI PERBANDINGAN BAKTERI UDARA SEBELUM DAN SESUDAH JAM BERKUNJUNG DI RUANG RAWAT INAP RSUD BULUKUMBA

Authors

  • Nurul Adhya Stikes Panrita Husada Bulukumba Author
  • Aan Yulianingsih Poltekkes Kemenkes Ternate Author
  • Islawati Universitas Negeri Makassar Author
  • Haerati Stikes Panrita Husada Bulukumba Author

Keywords:

bakteri udara, infeksi nosokomial, ruang rawat inap, jam kunjungan, kontrol lingkungan

Abstract

Ruang rawat inap rumah sakit berisiko tinggi terhadap penyebaran bakteri udara yang dapat memicu infeksi nosokomial, khususnya setelah aktivitas kunjungan. Penelitian ini bertujuan membandingkan jumlah total bakteri udara sebelum dan sesudah jam berkunjung di ruang rawat inap kelas VIP, I, II, dan III di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba. Penelitian bersifat eksperimental laboratorik dengan metode purposive sampling menggunakan media nutrien agar dan inkubasi selama 2 × 24 jam pada suhu 37°C. Hasil menunjukkan adanya peningkatan rata-rata jumlah bakteri udara sebesar 494,48 CFU/m³ (12,47%) setelah jam berkunjung. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas kunjungan berdampak terhadap peningkatan jumlah total bakteri udara, sehingga pengendalian lingkungan sangat diperlukan untuk mencegah infeksi silang.

References

Bartram, J., & Balance, R. (1996). Water Quality Monitoring: A Practical Guide to the Design and Implementation of Freshwater Quality Studies and Monitoring Programmes. United Nations Environment Programme and the World Health Organization.

Dancer, S. J. (2014). Controlling hospital-acquired infection: Focus on the role of the environment and new technologies. Journal of Hospital Infection, 87(1), 1–4. https://doi.org/10.1016/j.jhin.2014.02.005

Kementerian Kesehatan RI. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Jakarta: Kemenkes RI.

Leclerc, H., Mossel, D. A. A., Edberg, S. C., & Struijk, C. B. (2001). Advances in the bacteriology of the coliform group: Their suitability as markers of microbial water safety. Review of Microbiology, 55(3), 201–209. https://doi.org/10.1016/S0723-2020(01)80001-6

Lestari, Y. A., & Wijayanti, S. (2022). Pengaruh aktivitas kunjungan terhadap kualitas udara di ruang perawatan. Jurnal Kesehatan Komunitas, 12(1), 77–85.

Mariotta, G., & Gravani, R. (2006). Food Safety and Waterborne Illness. Cornell University Extension.

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Putri, A., & Zulfikar, M. (2023). Bakteri udara di ruang rawat berdasarkan kelas perawatan. Jurnal Mikrobiologi Terapan, 5(2), 58–66.

Rahman, R., et al. (2019). Kontaminasi udara oleh bakteri di lingkungan rumah sakit. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 17(2), 89–96.

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suryani, A., Kusumayati, A., & Hartono, B. (2024). Keberhasilan upaya higiene dan sanitasi air minum dalam meningkatkan kualitas bakteriologis air minum isi ulang. Jurnal Forikes, 12(1), 78–85. http://www.forikes-ejournal.com/index.php/SF/article/view/5463

World Health Organization. (2009). Natural Ventilation for Infection Control in Health-Care Settings. Geneva: WHO.

World Health Organization. (2017). Guidelines for Drinking-water Quality: Fourth Edition Incorporating the First Addendum. Geneva: WHO.

Downloads

Published

2025-08-23